SUDUT PANDANG

Sudut Pandang dalam penceritaan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Sudut Pandang orang pertama, dan
2. Sudut Pandang orang ketiga.
Ciri perbedaan yang menonjol antara keduanya adalah digunakan bentuk “akuan” pada sudut pandang orang pertama dan bentuk “diaan” pada sudut pandang orang ketiga.

Sudut Pandang orang pertama dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Orang pertama sebagai pelaku utama atau sentral, dan
2. Orang pertama sebagai pelaku sampingan.

Misalnya: Ada sebuah cerita dengan tokoh : Tuan, Nyonya, (pelaku utama) dan Pembantu (pelaku sampingan). Bila cerita itu dituturkan dari sudut pandang Tuan atau Nyonya maka disebut Sudut Pandang Orang Pertama sebagai Pelaku Utama. Jika penceritaan dilakukan dari sudut pandang Pembantu maka disebut Sudut Pandang sebagai Pelaku Sampingan.

Sudut Pandang orang ketiga dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Orang ketiga yang serba tahu, dan
2. Orang ketiga terbatas.

Contoh: Pencerita berada di luar cerita artinya tidak terlibat dalam cerita tersebut. Ini merupakan ciri sudut pandang penceritaan orang ketiga. Bila dalam menceritakan ia sampai menceritakan sampai pada apa yang ada dalam perasaan dan pikiran tokoh, maka disebut Sudut Pandang Orang Ketiga yang Serba Tahu.
Jika pencerita hanya menceritakan tokoh dan seluruh rangkaian cerita sebatas perilaku yang dapat dilihat dan didengar maka dikatakan Sudut Pandang Orang Ketiga yang Tahu Terbatas.

Perbedaan keduanya dapat terlihat dalam kutipan cerita berikut ini.
Astuti berangkat sekolah meskipun dengan hati yang galau. Masih terkenang peristiwa pertengkaran hebat orang tuanya tadi pagi. Ingin sebenarnya dia menemani Ibunya yang masih menangis saat itu. Namun, ibunya menyuruh dia tetap berangkat sekolah. Di dalam angkot yang penuh sesak itu, astuti masih tampak sembab matanya, dia tak hirau kondektur yang berteriak “Pojok….Pojok….” Tempat ia semestinya turun. Hati dan perasaannya masih disibuki oleh peristiwa yang dilihat, didengar, dirasakan atas pertengakaran orang tuanya. Setelah beberapa lama, ia baru tersadar … “Astaga, mengapa aku sampai di sini?. Kiri…kiri…Bang”. Ia pun segera turun. Masalah baru pun mulai menggayut di pikirnya. “Ah, aku terlambat ini”. Terbayanglah wajah guru BPnya yang galak. Sejumlah pertanyaan yang akan tertuju padanya atas keterlambatannya datang di sekolah. Ingin rasanya ia kembali pulang ke rumah dan urung ke sekolah.
(Sudut penceritaan seperti itu adalah Orang Ketiga Serba Tahu).

Astuti berangkat sekolah. Masih ada sisa tangis di wajahnya. Saat di dalam angkot, ia bertemu temannya.
“Mengapa Tut, kau tampak sedih?” kata Budiman.
“Hiya, Bud. Aku sedih karena harus meninggalkan ibuku yang sakit dan berduka di rumah sendirian dengan adikku yang masih kecil”
“Emang kenapa?”
“Tadi ayah – ibuku bertengkar. Dan ayah sempat memukul ibuku…”
“Ah, aku ikut sedih atas peristiwa yang terjadi dalam keluargamu”
“Eh, yuk… turun. Dah, sampai kita”, ajak Budi kepada Tuti.
Tanpa mereka sadari gerbang sekolah sudah ditutup. Mereka terlambat di sekolah.
Penjaga sekolah menyambutnya “Terlambat ya? Sana ke BP dulu!”
(Sudut Pandang penceritaan ini adalah Orang Ketiga Tahu Terbatas).

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: