MENGANALISIS LAPORAN PERJALANAN

GUNUNG SARI, sebuah laporan perjalanan

Perjalanan hari minggu kemarin , komunitas SXC2 berencana untuk menjelajahi kawasan Gunung Sari, Serang. Kawasan ini merupakan salah satu dataran tinggi yang berada di Kabupaten Serang, Banten. Trek yang akan ditempuh melalui Sepang, Cimoyan, Tanjung Ilir, Tanjung Udik, Gunung Sari, Cilowong, dan kembali ke Serang.
Bikers yang berpartisipasi minggu ini tidak terlalu banyak, hanya 11 orang. Kita absen ya, Bos Dono, Agus Chelski, Chiem, Mars the strongest, Pak Agung, Om Dwi Si Koneng, Mr. Su Bandi, Omiyan, Pak Bambang a.k.a Bos Dono Sr., Kusnaen & myself. Namun, sedikitnya jumlah ini tidak mengurangi antusiasme kami melahap tantangan trek yang akan muncul.

Perjalanan dimulai sekitar jam 07 dengan meeting point seperti biasa, yaitu halaman KPP Serang. Jalur Serang-Sepang tidak terlalu istimewa karena masih di dalam kawasan kota Serang dengan kondisi jalan aspal. Namun, selepas Sepang, bikers mulai disuguhi dengan tanjakan yang cukup membuat kami bernafas melalui mulut dan lutut gemetar. Pit stop pertama di pos ronda Desa Cimoyan. Penduduk di sana mengingatkan bahwa jalanan buntu, hanya jalan setapak. Nah… justru itu yang kami cari.

Selepas Cimoyan, karakteristik trek yang dilalui berupa jalan berbatu-batu yang licin dengan variasi lumpur tebal dan genangan air dan semakin licin karena malam sebelumnya kawasan ini diguyur hujan dengan intensitas cukup lebat. Banyak bikers yang terjebak di tengah-tengah lumpur sehingga terpaksa harus menurunkan kaki ke dalam genangan air dan lumpur. Kotor deh semua sepatu.

Tiba di puncak Desa Cimoyan, jalan buntu. Tetapi bikers tidak kehabisan akal karena perjalanan bisa dilakukan melewati kebun milik orang. Permisi Pak… bikers mau lewat.
Jalur menurun yang licin dan sempit dengan kemiringan hampir 60deg membuat para bikers tidak mungkin menaiki sepeda mereka. Semuanya MTB. Bukannya Mountain Bike, tapi Mari Tuntun Bersama. Tiba di dasar bukit, dilanjutkan dengan melewati pematang sawah yang beberapa minggu lagi siap dipanen. Si koneng yang menjadi forerider sempat terjungkal ke sawah tapi dengan penuh tekad bangun kembali dan menggenjot lagi di pematang. Trek kembali dirajai tanjakan dengan kemiringan tidak kalah curam dengan turunan di bukit tadi. Semua anggota MTB lagi. Tiba di puncak, itulah Desa Tanjung Ilir, para bikers menemukan sumber kehidupan, yaitu warung yang menjual kopi, teh manis, dan gorengan tahu. Alhamdulillah, setelah perut diisi, tenaga menjadi segar lagi. Pit stop kedua.

Perjalanan dilanjutkan ke arah Desa Tanjung Udik dengan karakteristik trek menanjak berbatu-batu licin sebesar kepala orang. Tentu saja ini sedikit menyulitkan para bikers untuk menggenjot sepedanya. Sampai-sampai di satu tanjakan, ada truk yang bannya selip. Sopir dan teman-temannya memblokir jalan dan meminta kami untuk membantu mendorong mobil. Bukannya gak mau menolong, lha wong tenaga buat ngedorong sepeda aja dihemat-hemat. Apalagi kalau harus ngedorong truk di jalan yang tanjakannya curam sekaligus licin.

Selama perjalanan, banyak hal menarik yang ditemui oleh para bikers. Para penduduk desa sangat ramah manyapa kami sekaligus mengajak mampir ke rumah-rumah mereka yang sangat sederhana. Suatu pemandangan yang jarang kita lihat di kota. Mainan anak-anak mereka juga sederhana. Bola terbuat dari plastik dan mobil-mobilan terbuat dari botol bekas oli yang dipotong-potong sehingga membentuk mobil dengan ban terbuat dari potongan sendal. Bandingkan dengan mainan teman-temannya di kota, Playstation, komputer. Walaupun begitu, mereka tetap bermain dengan ceria. Kesederhanaan berjalan seiring dengan kebahahagiaan.

Akhirnya, para bikers tiba juga di Gunung Sari. Jalur ini merupakan pertemuan antara jalan dari Desa Tanjung Udik dengan jalan raya Serang-Gunung Sari. Teman-teman yang biasa menggunakan jalur alternatif dari Serang ke Anyer melalui Gunung Sari, Panenjoan, mungkin sudah tidak asing lagi dengan jalan ini. Para bikers beristirahat lagi di pit stop ketiga ini. Sayang seksi tofografi gak ikut, jadinya gak ada GPS record untuk ketinggian maupun jarak tempuh kali ini.

Setelah semua segar kembali, perjalanan dilanjutkan kembali ke arah Serang melalui TPA Cilowong, Tempat Pembuangan Akhir sampah yang baunya gak sedap euy… Sebetulnya pemandangan pada saat turun sangat bagus. Kita bisa melihat pantai Banten lama dari sana. Tapi itulah, baunya menusuk hidung.
Oleh karena kondisi tarmac yang relatif bagus dengan turunan yang panjang, para bikers menggenjot sprint sepeda mereka. Namun, saya belum tahu berapa kecepatan maksimal yang didapat saat itu. Sepedaku gak dipasang speedometer euy. Mungkin bikers yang lain bisa membantu?

Alhamdulillah, perjalanan via Kampung Soyog tidak terasa berat karena jalan didominasi turunan sampai dengan perempatan Brimob, Serang. Beberapa bikers mampir ke pit stop terakhir di warung dekat Markas Brimob Serang untuk hidangan berikutnya. Saya sih, langsung belok kanan, pulang ke rumah, tiba sekitar jam 11. Terhitung cepat mengingat tingkat kesulitan dan jarak yang kami tempuh.

Alhamdulillah. Akhirnya, sampai jumpa pada perjalanan berikutnya.

TUGAS:
1. Analisis laporan tersebut berdasarkan unsur 5 W 1 H!
2. Bagaimana pendapat kamu tentang laporan tersebut! Jelaskan alasanmu dalam 1 paragraf!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: