PUISI

Unsur-unsur Pembangun Puisi

Bahasa dalam karya sastra (puisi) bukanlah bahasa sehari-hari. Itu karena bahasa dalam karya sastra ada pada tataran secondary modelling system atau sistem bahasa yang kedua. Karenanya, arti kata dalam puisi bukan arti kata yang mutlak atau absolut, melainkan bersifat universal.

Puisi menyatakan sesuatu secara tidak langsung. Ketidaklangsungan ini karena adanya displacing (penggantian arti), distorting (penyimpangan), dan creating of meaning (penciptaan arti). Puisi memiliki beberapa unsur, antara lain bunyi, diksi, bahasa kiasan, citraan, sarana retorika, bentuk visual, dan makna. Penjelasannya sebagai berikut:

a.   Bunyi

Bunyi merupakan peran yang penting dalam puisi karena puisi merupakan karya seni yang diciptakan untuk didengarkan (Sayuti, 2002:102). Bunyi berperan seperti layaknya orkestra yang dapat mempengaruhi perasaan, pikiran, dan pengalaman jiwa para pendengarnya. Kombinasi bunyi yang merdu biasa disebut dengan efoni, atau bunyi yang indah (Pradopo, 2002:27). Efoni biasanya untuk menggambarkan perasaan cinta atau hal-hal yang menggambarkan kesenangan lainnya. Contoh efoni antara lain berupa kombinasi bunyi-bunyi vokal (asonansi) a, e, i, u, o dengan bunyi-bunyi konsonan bersuara (voiced) seperti b, d, g, j, bunyi liquida seperti r dan l, serta bunyi sengau seperti m, n, ny, dan ng.

Sebaliknya, kombinasi bunyi yang tidak merdu, parau, dan banyak diwarnai bunyi k, p, t, s disebut kakofoni. Kakofoni biasanya untuk mewakili ekspresi yang tidak menyenangkan, tak teratur. 

WS Rendra banyak melakukan perulangan terhadap huruf-huruf vokal (asonansi) seperti a, o, a dan u yang dipadankan dengan bunyi sengau (nasal) ng. Efek yang timbul darinya adalah suasana gembira, penuh kemesraan, dan harapan untuk bertemu dengan anak si Aku-Lirik. Sebaliknya, Subagio Sastrowardoyo lebih banyak bermain dengan pengulangan bunyi konsonan (aliterasi) seperti  k, p, dan t. Sehingga, efek yang muncul adalah perasaan muram, penuh kemarahan, sesak, dan kesempitan.

      b.   Diksi

Diksi  adalah pilihan kata atau frasa dalam karya sastra. Kata-kata yang dipilih oleh penyair merupakan ”kata pilihan” untuk mengungkapkan apa yang disampaikannya secara tepat. Efek yang muncul dari pemilihan kata ini adalah adanya imajinasi yang estetis. Pemilihan kata juga bisa menjadi ciri dari seorang penyair (idiosinkresi). Salah satu penyair yang lekat dengan budaya Jawa karena banyak memanfaatkan bahasa Jawa dalam penulisan puisinya adalah Darmanto Jatman, seperti yang terlihat dalam buku kumpulan puisinya Golf untuk Rakyat (1981).

 c.   Bahasa Kiasan

Unsur puisi lainnya adalah bahasa kiasan (figurative language). Peran figurative language adalah untuk mendapatkan efek estetis dengan pengungkapannya secara tak langsung. Kadang kala, untuk mendapatkan kejelasan gambaran angan. Bahasa kiasan bermacam-macam, antara lain simile (perbandingan), metafora (perbandingan tak langsung),  personifikasi, metonimi, sinekdoki, dan alegori (Pradopo, 2002:62).

   Personifikasi atau prosopopoeia (Keraf, 2004:140) adalah bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Benda-benda mati itu seolah-olah bisa berperilaku, berperasaan, dan memiliki karakter manusia lainnya. Contoh: angin baru saja singgah di kota ini, mengendarai awan-awan yang kesepian karena ditinggalkan burung-burung kepodang.

                        Metafora adalah gaya bahasa yang membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Dalam sebuah metafora terdapat dua unsur, yakni pembanding (vehicle) dan yang dibandingkan (tenor). Metafora ada dua macam, eksplisit dan implisit. Disebut metafora eksplisit jika pembandingnya disebutkan, misalnya kaulah kandil kemerlap. Kau dalam kutipan itu dibandingkan dengan pelita yang memberikan cahaya. Disebut metafora implisit bila yang disebutkan hanya unsur pembandingnya saja, misalnya sebagai rerumputan / kita harus berkembang biak / dalam persatuan dan cinta.

Sinekdoki adalah jenis gaya bahasa yang menggunakan bagian dari suatu benda untuk mewakili benda itu sendiri. Sinekdoki dan metonimi hampir sama karena hanya merujuk pada bagian atau sifat suatu hal atau benda yang dimanfaatkan untuk mewakili benda itu. Misalnya: Kalau ada tangan yang mengulurkan kenyang dari perut nasi hingga enyah lapar ini / Kaulah tangan itu (Abdul Hadi WM, Doa 1). Tangan yang mengulurkan kenyang di atas mewakili Tuhan yang oleh aku-lirik dinilai sebagai pemberi segala rasa kenyang (kenikmatan).

                        Alegori adalah metafora yang diperpanjang. Alegori disebut juga dongeng perumpamaan. Puisi Teratai karya Sanusi Pane merupakan alegori karena bunga teratai mengisahkan tokoh pendidikan. Teratai adalah gambaran dari tokoh pendidikan itu (Ki Hadjar Dewantara) yang memberikan keteladanan kepada bangsa Indonesia.

      d.   Citraan

            Citraan (imagery) adalah gambaran angan yang bermanfaat dalam pemahaman puisi. Citraan memungkinkan kita untuk mencitrakan atau membayangkan kata-kata. Citraan ini sangat bermanfaat dalam menghidupkan puisi.   Beberapa macam citraan antara lain citraan penglihatan (visual), citraan pendengaran (auditory), citraan lidah atau rasa (tactile), citraan gerak (kinaestetik), dan citraan rabaan (termal).

TUGAS

Buatlah puisi dengan ilustrasi berikut.

Suatu malam, hujan begitu lebatnya. Listrik mati. Saya, adik, dan kedua orang tua saya kemudian duduk di teras. Langit tampak gelap, sementara parit di depan penuh air.

Adik saya kemudian bertanya tetang sesuatu yang ada di langit. Ibunya menjawab ada Tuhan yang sedang mengawasi kita.

Setelah sekian lama ternyata hujan tak reda dan listrik pun belum menyala. Adik saya merasa ketakutan, dan kemudian diajak tidur oleh ibu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: