Contoh Teks Pidato

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Yang terhormat Dewan Juri lomba pidato.
Teman-teman dan hadirin yang berbahagia.
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayahnya kepada kita semua, sehingga kita dapat berkumpul di tempat ini pada acara lomba pidato memperingati Hari lahir Pancasila.
Hadirin yang berbahagia.
Pancasila yang dirumuskan oleh Ir. Sukarno pada 1 Juni 1945 merupakan hasil kristalisasi dari pemikirannya sejak tahun 1926. Pada saat itu beliau menulis buku yang berjudul Nasionalisme, Islam dan Marzisme. Dari sinilah Sukarno mengembangkan pemikirannya hingga 1940-an. Ketika Sukarno menguraikan pandangannya tentang Pancasila pada 1 Juni 1945 di depan PPKI, beliau menyatakan bahwa Pancasila beliau gali dari kehidupan bangsa Indonesia yang sudah berabad lamanya.
Pancasila adalah lima nilai dasar luhur yang ada dan berkembang bersama dengan bangsa Indonesia sejak dahulu. Perkembangan Pancasila pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua tahap. Pertama, tahap perkembangan sebagai nilai yang mampu menggerakkan perjuangan bangsa dari zaman ke zaman. Dalam perkembangan ini, Pancasila berfungsi sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia. Kedua, perkembangan Pancasila yang telah memiliki sifat formal, yaitu semenjak disahkan UUD 1945 tanggal 18 Agustus 1945, nilai Pancasila tercantum dalam pembukaannya.
Dewan juri dan hadirin yang berbahagia.
Di tiap sila pancasila memiliki nilai-nilai yang dapat dijadikan panutan setiap warga negara Indonesia. Namun, dengan masuknya berbagai pengaruh terutama budaya barat mengakibatkan lunturnya pengamalan Pancasila khususnya generasi muda.
Sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa” berlambang bintang emas. Di dalamnya mengandung beberapa nilai antara lain (1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaanya dan ketaqwaanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Selain itu, terkandung pula nilai “Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antarpemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan yang Maha Esa”. Apakah kita sudah mengamalkan nilai-nilai tersebut? Seharusnya itulah yang dilakukan oleh kita warga negara Indonesia. Namun, kenyataannya kita melihat banyak bukti akan lunturnya rasa toleransi antarpemeluk agama.
Sila kedua yang berbunyi “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, berlambang rantai emas. Di dalamnya terkandung nilai untuk mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya”. Namun, hal ini pun mulai memudar dari kehidupan rakyat Indonesia. Ironisnya, banyak para penegak hukum yang meninggalkan nilai sila kedua tersebut. Contohnya, pada kasus, pencurian buah coklat di suatu daerah. Korbannya, diganjar dengan hukuman pidana 5 tahun penjara, sementara untuk kasus koruptor yang menyelewengkan milyaran bahkan trilyunan uang negara hanya dihukum dengan hukuman yang ringan dengan fasilitas yang mewah, leluasa keluar masuk penjara sesuka hati. Bahkan, ada yang dibiarkan jalan-jalan ke luar negeri di saat masa tahanannya belum usai.
Sila ketiga, “Persatuan Indonesia” berlambang pohon beringin. Salah satu nilai pada sila ketiga adalah “Memelihara ketertiban dunia, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Namun faktanya, di beberapa daerah terjadi perkelahian antar pelajar, pertikaian antar warga desa yang sebenarnya hanya dipicu oleh masalah sepele. Akibatnya berpuluh-puluh korban cidera bahkan meninggal. Contoh tersebut menunjukkan masyarakat telah meninggalkan pengamalan sila yang ketiga.
Sila keempat yang berbunyi “Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan”. Sila ini dilambangkan dengan kepala banteng. Nilai sila keempat antara lain “Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah” dan “Dengan iktikat baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah”. Namun, kita sering melihat beberapa peristiwa yang meninggalkan nilai tersebut. Kasus pemilihan ketua PSSI adalah salah satu contohnya. Banyak anggota yang tidak menerima dan menghormati keputusan sebagai hasil musyawarah. Mereka beradu mulut, debat kusir, tarik urat untuk memaksakan kehendak. Inikah jiwa kebersamaan dan jiwa kekeluargaan di Indonesia sekarang? Tentu saja bukan. Karena seharusnya, keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.

Sila kelima yaitu “Keadilan Sosial bagi Seluruh rakyat Indonesia” dilambangkan padi dan kapas. Nilai yang terkandung pada sila kelima antara lain suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri, tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain, dan tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah. Apakah nilai-nilai tersebut dapat kita temui pada setiap warga negara Indonesia? Nyatanya, kita justru lebih mudah menemukan orang-orang yang menggunakan kekayaannya untuk kepentingannya sendiri bukan untuk menolong orang lain. Mereka pun cenderung bergaya hidup mewah dan boros.
Hadirin yang berbahagia,
Mari kita kembali membangun masyarakat yang sadar dan peduli akan pentingnya persatuan dan kesatuan, masyarakat yang peduli akan nasionalisme. Mari kita bergandeng tangan demi masa depan bangsa dan negara. Jangan lagi terjadi pertikaian, permusuhan dan perkelaian.
Dewan juri dan hadirin yang berbahagia.
Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga bangsa Indonesia ke depan dapat kembali bangkit, menjadi negara yang kokoh, negara yang maju dan dihormati di dunia internasional. Bangkit generasi muda. Majulah demi bangsa dan negara. Pertahankan negara kesatuan Republik Indonesai. Menjadi tanggunganmu terhadap nusa, menjadi tanggunganmu terhadap nusa…
Sekian, terima kasih dan mohon maaf apabila terdapat tutur kata serta tingkah laku yang kurang berkenan.
Wasalamualaikum Wr. Wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: